Rohim (36)
mulai berjualan tahu goreng di depan SMP 1 Karangtanjung, Pandeglang, satu
tahun lalu. Saat ditanyakan berapa penghasilan yang didapat dalam sehari, ia
mengaku dapat menghasilkan uang sebanyak 200 sampai 250 ribu. “Saya mulai
berjualan mulai pukul sebelas pagi hingga sembilan malam,” ujarnya kepada
wartawan pada Selasa (4/2). Keuntungan yang saya dapat, kata Rohim, saya
gunakan untuk biaya hidup sehari-hari, dan membayar kredit motor Yamaha Viction.
Jika
diakumulatifkan, Rohim mempunyai penghasilan sekitar 5–6 juta rupiah per bulan, tetapi ia juga
harus membayar sewa tempat berjualan sebesar 3 juta per tahun. Dia juga
menyampaikan bahwa dia harus mengeluarkan modal sekiar 15 juta rupiah. “Tapi alhamdulillah, saya hanya mengeluarkan
modal sekali, dan sekarang telah kembali.”
Berbeda
dengan Epul (24), guru honorer di Madrasah Aliyah (MA) Pandeglang yang mulai
mengajar di sekolah tersebut tiga tahun lalu. Ia mulai mengajar pukul 08.00
hingga 13.00. Saat ditanyakan terkait gajinya di sekolah, ia agak ragu untuk
mengungkapkannya. “Saya mendapat gaji kurang-lebih 600 ribu. Itu pun uangnya
habis untuk cicilan kredit Honda Supra X
125. Sejak Epul mengajar di madrasah, ia merasa prihatin dengan
kesejahteraan guru–guru honorer, terlebih guru yang sudah mempunyai keluarga
dan anak. Mereka harus mengajar lebih dari satu sekolah demi memenuhi kebutuhan
keluarga.
Kata Epul,
tidak jarang guru yang sepeti itu, bahkan mereka ada yang menjadi buruh tani
selepas mengajar di sekolah. Akhirnya guru mengajar hanya sekadarnya, tidak
memikirkan kualitas ilmu yang mereka ajarkan. “Seharsusnya, jika negeri ini
ingin maju, pemerintah harus mengutamakan pendidikan, karena pendidikan adalah
modal utama untuk kemajuan anak bangsa,” ujarnya. (Az Ziad)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar