Rabu, 06 Januari 2016

Ku menunggunya di sudut jalan lintas cilegon


Ku menunggunya di sudut jalan lintas cilegon. Pandanganku awas menatap setiap mobil biru yang melintas dalam bola mataku. Ya, mobil itu berplat kuning dan setiap satu menit selalu ada yang sama di belakangnya. Tapi sampai saat ini pukul 09.30, dia masih belum juga menunjukan tanda-tanda kedatanganya. Ku harap mobil plat kuning itu memberikan lampu sen kiri yang menunjukan berarti dia ada di mobil tersebut. Tapi belum juga datang hingga kini.
Dimana kah engkau W.R. aku sudah hampir satu jam lebih menunggumu di sudut jalan yang kita telah sepakati semalam tepat di pangkalan ojek samping indomaret. Ya, pangkalan ojek. Mereka sudah beberapa kali mengantarkan pasien yang hendak pulang ke rumah secaa bergiliran. Aku seang melihat mereka yang selalu bersemangat menyambut pasien-pasiennya. Mereka juga disiplin dalam mengantri giliran. Sekalipun ada saja penumpang yang membawa barang-barang yang merepotkan mereka, tapi mereka tetap tersenyum menyambut gembira rizkinya. Aku tersenyum melihatnya, karung-karung itu di tumpuk di motor suzuki tahun 2000an yang tipis jok nya. Lalu tukang ojek itu menaruh karung besar belakang jok dan karung-karung kecil di depan. Itulah perjuangan sang pencari rizki Allah. Akupun pasti akan merasakan hal yang sama. Aku harus belajar lebih banyak lagi agar suatu saat aku tidak pernah lelah menyambut rizki ku yang datang dari langit Allah.
Saat ku tertunduk lelah menatap hp ku yang sibuk memutar musik MP3. Aku merasakan angin yang segar menghampiri dadaku. Rasanya sdikit sesak namun segar sesegar air sungai yang mengalir di gunung karang.  Lalu ku paksakan leherku untuk tegak menatap jalan untuk kesekian kalinya. Tak ku sangka, memang benar cahaya itu yang membuatku sesak tadi. Aku melihat senyum indahnya lagi. Begitu sempurna seperti lukian kanfas. ku tak berani memalingkan pandanganku lagi. Dia menghampiriku dengan wajah sesal di hati tapi tetap tersenym menyambutku. Aku hanya bisa senyum menatapnya . hasratku yang selalu ingin menyentuh wajahnya tak terhindarkan lagi. Aku sungguh menyayangimu kasih. Aku akan rela menunggumu hingga ku rapuh demi melihat senyum ceria di wajahmu itu .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar