Rabu, 06 Januari 2016

Ketika Ku Kerja Di Jakarta


Sudah lebih 30 menit aku duduk di halte tunggu Tomang, menunggu bus kopaja jurusan Pasar Senen ke Kebon Nanas. Tampak mobil berlalu lalang begitu ramai di depan mataku. Hanya ada aku dan perempuan umur 25an menunggu bus sama sepertiku. Tujuan ku pulang ke pandeglang, rumah ku. Aku heran, hari ini aku merasakan hari yang biasa saja. Padahal 28 juli 2014 ini, bertepatan dengan hari raya idhul fitri. Ya Allah, tadi aku tidak ikut sholat aid, sholat subuh saja aku tunaikan pukul 8 pagi. Bukan tampa alasan, pasalnya semalam aku mencuci pakaian terlebih dahulu setelah selesai bekerja. Aku baru dapat tidur pukul 4 dini hari.
Aku bekerja di sebuah mini market di daerah Jakarta selatan, beruntung hari ini toko buka pukul 10 pagi. Jadi aku bisa melanjutkan mimpiku yang sempat terjeda sholat shubuh. Aku juga tidak lupa mengaktifkan alarem agar tidak bablas nantinya. Hanya aku dan mansyur yang tinggal di mess mini market ini. Dia tampak lelap sekali dalam tidurnya.
Aku sudah berniat jauh – jauh hari akan pulang kampung hari ini. Ya setelah selesai bekerja, pada hari senin tepatnya hari idul fitri. Walaupun aku tidak bisa berlebaran di rumah kali ini. Aku tetap merasa biasa- biasa saja. Pasalnya aku sudah pulang 3 hari sebelumnya. Jadi ibu ku tidak lagi merasa aku bekerja berebihan.
Hmmmm, rasanya aku bosan menunggu di halte ini. Sebenarnya ada opsi kedua untuk sampai ke rumah. Yang pertama, sekarng ini aku menunggu di halte Tomang untuk naik bus jurusan ke kebon nanas, setelah itu naik bis murni langsung ke pandeglang. opsi ke dua aku harus jalan kaki terlebih dahulu melewati halte kurang lebih 500 meter . sampai di perempatan, aku naik bis langsung arah ke pakupatan serang. Setelah itu baru naik bis ke pandeglang. opsi ke dua ini belum pernah ku coba. Dan opsi pertama telah ku coba 3 hari kemarin.
Akhirnya aku memutuskan opsi ke dua, tapi aku akan tetap naik bis jurusan kebon nanas sambil aku berjalan menuju perempatan. Saat ku tinggalkan halte itu. Tmpak nya perempuan itu masih setia menunggu bis. Sedang aku tak sabar menunggu nya. Aku terus berjalan menuju perempatan sambil sesekali menoleh beberapa kali ke belakang berharap mobil bis nya lewat, jadi aku tidak perlu berjalan jauh.
Hampir setiap 5 meter sekali aku kerap kali menoleh ke belakang. Mungkin jika oang lain melihat, aku seperti orang yang agak aneh. Saat aku menoleh yang sekian kali nya. Akhirnya dugaku benar. Bis itu bisa ku lihat dari kejauhan. Bis itu berhenti di hate, pasti perempuan itu sudah naik bis. Aku pun menghentikan langkahku dan langsung menunggu bis itu.
Setelah semakin dekat, aku mengulurkan tangan memberi tanda agar bis nya berhenti. Setelah bis itu berhrnti, cepat – cepat ku meaikinya. Setelah di dalm bis, aku tengok kiri kanan, ternyata kursinya penuh. “ke tengah aja mas masih kosong” kata kondektur. Dalam hatiku kosong apanya, orang segitu penuhnya. Saat mataku menoleh ke arah kursi dekat supir, aku meliah perempuan tadi duduk di kursi paling depan dekat dengan supir. Aku melihat masih ada ruang jika ia mau menggeser lagi. “saya duduk di sini saja bang” kataku. Perempuan itu langsung mengerti da menggeser posisi duduknya sehingga ku dapat duduk di sebelahnya.
Alhamdulillah, aku merasa nyaman di empat duduk ini. Selain memang tmpat duduknya memang pas untuk dua orang, juga pas tepat di depan, jadi aku bisa langsung melihat kedepan jalan tampa halangan apapun . ini memang tempat favoritku. Saat kondektur meminta uang bayaran. Aku mencoba mengeluarkan uang yang tadi sudah ku siapkan dalam aku celanaku. Tapi aku menunggu perempuan itu bayar terlebih dahulu, karna aku tidak tau tarif mobil Ac ini. 3 hari yang lalu, aku naik bis non Ac, dengan ongkos 5 ribu rupiah saja. Perempuan itu memberinya 10 ribu rupiah, dan aku pun langsung mengganti uang yang tadinya ku ambil 5 ribu menjadi 10 ribu.
Pukul 17.40 akhrnya aku sampai di kebon nanas . berarti kurang lebih ku habiskan di bis tadi sekitar 50 menitan. Karna memang jalanan tidak macet, dikarnakan sudah usainya arus mudik sehingga jalanan jakarta seperti di tinggalkan oleh serbuan mobil- mobil. Setelah turun aku langsung menyebrang melalui jembatan fly over . tidak lama berselang. Suara kondektur yang bereriak teriak “yoo labuan labuaan seraangg labuan serang”. Begitu hyaring terdengar. Akupun langsung menghampiri mobil bis hijau bermerek Asli prima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar