Rohim
(36), seorang pedagang tahu di depan SMP 1 Karangtanjung, Pandeglang, sejak
satu tahun lalu. Saat di tanyakan berapa penghasilan bersih yang di dapat per
harinya, ia mengaku mendapat sekitar 200 sampai 250 ribu tiap hari nya. “ya
kira-kira segitulah perharinya, dari saya buka jualan pukul 11:00 pagi, hingga
sembilan malam” ujarnya. “Ya lumayan buat kebutuhan sehari – hari keluarga, dan
biaya setoran kredit motor (Yamaha,Viction)” tambahnya sambil ia menggoreng
tahu – tahunya.
Jika di
akumulatifkan, Rohim mempunyai penghasilan sekitar 5 – 6 juta per bulannya. Tapi ia juga harus
membayar sewa tempat berjualan sebesar 3 juta per tahun. Dia juga menyampaikan
“sebelum saya berjualan saya harus ngeluarin modal sekiar 15 juta de?” ujarnya.
“Tapi alhmdulillah, modal mah cuma sekali, tapi usaha terus dan modal itu sudah
kembali” lanjutnya sambil tersenyum.
Berbeda
dengan Epul (24), seorang guru honorer di Madrasah Aliyah (MA) Pandeglang sejak
ia di nobatkan menjadi seorang sarjana pendidikan (S.Pd) tiga tahun yang lalu.
Ia memulai aktivitas mengajar di sekolah pukul 08:00pagi hingga satu siang.
Saat di tanyakan terkait gajinya di sekolah, ia agak ragu mengungkapkannya.
“perbulan, dari sekolah saya mendapatkan gaji kurang lebih 600 ribu mas, itupun
uangnya habis buat cicilan kredit motor (Honda, Supra X 125)”. Sejak epul
mengajar di Madrasah, ia juga megatakan merasa prihatin dengan kesejahteraan
guru – guru di negri ini, terlebih guru yang sudah mempunyai keluarga dan anak,
mereka harus mengajar lebih dari satu sekolah demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Tidak
jarang guru yang sepeti itu, bahkan mereka ada yang menjadi buruh tani selepas
mengajar di sekolah. Akhirnya guru mengajar hanya sebatas saja, tidak
memikirkan kualitas yang mereka ajarkan. “seharusnya kalo pemerintah ingin
negri ini maju, yang harus di utamakan adalah pendidikan, karna itu modal cikal
bakal generasi penerus bangsa” ujarnya. Selasa
(04/1)
_Az ziaD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar