Rabu, 06 Januari 2016

Pedagang Tahu dan Guru Honorer




Rohim (36), seorang pedagang tahu di depan SMP 1 Karangtanjung, Pandeglang, sejak satu tahun lalu. Saat di tanyakan berapa penghasilan bersih yang di dapat per harinya, ia mengaku mendapat sekitar 200 sampai 250 ribu tiap hari nya. “ya kira-kira segitulah perharinya, dari saya buka jualan pukul 11:00 pagi, hingga sembilan malam” ujarnya. “Ya lumayan buat kebutuhan sehari – hari keluarga, dan biaya setoran kredit motor (Yamaha,Viction)” tambahnya sambil ia menggoreng tahu – tahunya.
Jika di akumulatifkan, Rohim mempunyai penghasilan sekitar  5 – 6 juta per bulannya. Tapi ia juga harus membayar sewa tempat berjualan sebesar 3 juta per tahun. Dia juga menyampaikan “sebelum saya berjualan saya harus ngeluarin modal sekiar 15 juta de?” ujarnya. “Tapi alhmdulillah, modal mah cuma sekali, tapi usaha terus dan modal itu sudah kembali” lanjutnya sambil tersenyum.
Berbeda dengan Epul (24), seorang guru honorer di Madrasah Aliyah (MA) Pandeglang sejak ia di nobatkan menjadi seorang sarjana pendidikan (S.Pd) tiga tahun yang lalu. Ia memulai aktivitas mengajar di sekolah pukul 08:00pagi hingga satu siang. Saat di tanyakan terkait gajinya di sekolah, ia agak ragu mengungkapkannya. “perbulan, dari sekolah saya mendapatkan gaji kurang lebih 600 ribu mas, itupun uangnya habis buat cicilan kredit motor (Honda, Supra X 125)”. Sejak epul mengajar di Madrasah, ia juga megatakan merasa prihatin dengan kesejahteraan guru – guru di negri ini, terlebih guru yang sudah mempunyai keluarga dan anak, mereka harus mengajar lebih dari satu sekolah demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Tidak jarang guru yang sepeti itu, bahkan mereka ada yang menjadi buruh tani selepas mengajar di sekolah. Akhirnya guru mengajar hanya sebatas saja, tidak memikirkan kualitas yang mereka ajarkan. “seharusnya kalo pemerintah ingin negri ini maju, yang harus di utamakan adalah pendidikan, karna itu modal cikal bakal generasi penerus bangsa” ujarnya. Selasa (04/1)
_Az ziaD


Tidak ada komentar:

Posting Komentar