LAPORAN
AKHIR KELOMPOK
MAHASISWA
KULIAH KERJA NYATA (KUKERTA)
TAHUN
AKADEMIK 2013/2014

LOKASI
:
DESA/KEL :
ANGGALAN
KECAMATAN : CIKULUR
KAB/KOTA : LEBAK
LEMBAGA
PENELITIAN DAN PENGABDIAN
KEPADA
MASYARAKAT (LP2M)
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN)
“SULTAN
MAULANA HASANUDDIN” BANTEN
TAHUN
2014
LEMBAR
PENGESAHAN
BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
Setelah dilakukan pengarahan, bimbingan, koreksi dan
laporan seperlunya dari draft laporan kelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata
(KUKERTA) IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Tahun Akademik 2013/2014 yang
berlokasi di desa Anggalan, kecamatan Cikulur, kabupaten Lebak dinyatakan sudah
memenuhi syarat untuk diajukan sebagai laporan kelompok.
Demikian pengesahan ini
kami nyatakan semoga dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Serang, 14 April 2014
Disahkan oleh:
Dosen Pembimbing
Lapangan,
Moh. Nur Arifin, S.Ag., M.Si
NIP. 198102212002121002
|
Mengetahui,
Ketahui LP2M,
Drs. H.M.A Djazimi,
M.Pd.
NIP. 19530410 198203
1 004
|
Nama
– nama Keolpok Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) IAIN “Sultan Maulana
Hasanudin” Banten di Desa Anggalan
Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak Prov. Banten yang berjumlah 15 orang
mahasiswa aktif.
Adapun nama-namanya
sebagai berikut:
NO
|
NAMA
|
JURUSAN
|
NIM
|
01
|
MUHAMMAD
SYARIFUDIN
|
PBI
|
102300913
|
02
|
DAYAH
TOIYAH
|
PBI
|
102301007
|
03
|
MARLINA
|
EKIS
|
101400588
|
04
|
SUPENDI
|
PAI
|
102100204
|
05
|
NURUL
HIKMAH FADILAH
|
PGMI
|
102700266
|
06
|
INDRIANI
SUKOCO
|
PBI
|
102300836
|
07
|
AAT
ATIQOH
|
PBA
|
102200390
|
08
|
MUHAMMAD
ALI ASSIDIQI
|
MUA
|
101300383
|
09
|
ABDUL
RO’IF
|
PAI
|
102101041
|
10
|
FITRIANI
R.
|
PGMI
|
102700260
|
11
|
MURNIATI
|
SPI
|
102400193
|
12
|
IFROHATUL
FAUQOH
|
PBI
|
102301036
|
13
|
NURHIDAYAT
|
PGMI
|
102700324
|
14
|
CANTI
MULYATI
|
PBA
|
102200376
|
15
|
TINTI
FATMAWATI
|
ASY
|
101100143
|
DAFTAR ISI :
Kata
Pengantar……………………………………………………………..……………..…. i
Daftar
Isi ………………………………………………………………………………..……. ii
BAB
I. PENDAHULUAN
A.
Pendahuluan ………………………………………………………………………………...01
B.
Tujuan ……………………………………………………………………………………….02
C.
Dasar/Landasan …………………………………………………………………………….03
D.
Waktu dan Tempat/Lokasi ………………………………...……………………………...03
E.
Manfaat Kegiatan …………………………………………………………...……………....03
BAB
II. KONDISI OBJEKTIF LOKASI
A.
Sejarah Desa/ Kelurahan …………………………………………………………………...05
B.
Kondisi Geografis dan Demografis ………………………………………………………...05
C.
Kondisi Pendidikan Masyarakat …………………………………………………………..09
D.
Kondisi Ekonomi dan Budaya Masyarakat ………………………………………………10
E.
Kondisi Sosial dan Keagamaan …………………………………………………………….12
F.
Permasalahan Desa …...…………………………………………………………………….12
G.
Potensi Desa …………………………………………………………………………………13
BAB
III. ANALISIS MASALAH DAN RENCANA AKSI
A.
Identifikasi Masalah ………………………………………………………………………..14
B.
Metode dan Teknik yang Digunakan ……………………………………………………...15
•
Membuat
Alur Sejarah (Time Line) ………………………………………………….15
•
Transect
(Transektor) …………………………………………………………………17
•
Mapping
(Pemetaan) …………………………………………………………………..21
•
Diagram
Venn ………………………………………………………………………….22
•
Trend and
Change (Bagan Perubanhan dan Kecenderungan) …………………….23
•
Analisis
Pohon Masalah dan Harapan ……………………………………………….24
•
Season
Calender ………………………………………………………………………..27
•
Diagram
Alur …………………………………………………………………………..28
•
Matrik
Rangking ……………………………………………………………………….29
BAB
IV. PELAKSANAAN PROGRAM
A.
Tahap Pra Pelaksanaan dan Pelaksanaan
Program …………………...………………..33
B. Evaluasi dan Refleksi ………………………………………………………………………38
BAB
V. PENUTUP
A.
Kesimpulan ………………………………………………………………………………….40
B.
Rekomendasi ………………………………………………………………………………...40
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Balakang
Kuliah
Kerja Nyata (KUKERTA) sebagai salah satu wahana bagi mahasiswa untuk
mengaplikasikan teori-teori yang dimilikinya ke dalam sebuah wujud nyata
pengabdian kepada masyarakat. Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) juga merupakan
bentuk konkrit dari pengamalanan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang di dalamnya
mencakup mengenai pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) ini,
mahasiswa diharapkan dapat mengaktualisasikan disiplin ilmu yang masih dalam
tataran teoritis terhadap realisasi praktis dengan bentuk pengabdian dan
pendampingan langsung kepada masyarakat, di samping penelitian yang dilakukan
sebagai usaha pengembangan ilmu yang didapat sebelumnya. Selain itu, Kuliah
Kerja Nyata (KUKERTA) juga memiliki keterampilan dalam mengatasi dan
mengkordinir masalah-masalah yang terjadi di tengah masyarakat sebagai media
untuk belajar, membangun hubungan yang integral dalam komunitas masyarakat
sebagai obyek utama yang akan dihadapi kelak setelah menyelesaikan studi.
Walaupun
pengabdian merupakan bentuk konkrit dari Trias Akademika, dengan keterbatasan
waktu dan materi, Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) belumlah cukup untuk dijadikan
target pengabdian yang sebenarnya. Namun yang terpenting di sini adalah kita
harus bisa menjadikan pendidikan sebagai suatu prioritas utama bagi peserta
KUKERTA dengan menyeleksi berbagai pengalaman, mulai dari berusaha untuk
beradaptasi, bersosialisasi, dan saling membantu dalam menjalankan berbagai
program kerja hingga memberikan solusi terhadap problematika yang timbul dalam
internal peserta KUKERTA maupun yang terjadi di tengah-tengah masyarakat
majemuk seperti di Desa Anggalan. Hal ini dikarenakan permasalahan dalam era
pembangunan ini sangat komplek. Maka perlu adanya penanggulangan secara pragmatis
dengan keterlibatan aksi mahasiswa dalam Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) yang
signifikan dengan tujuan melatih para calon sarjana untuk bekerja dengan baik
dalam penanggulangan permasalahan secara sistematis dan terarah.
Dengan
demikian peserta KUKERTA dapat mengevaluasi dan mengukur akan kekurangan dan
kelebihan masing-masing, paling tidak dari pengalaman tersebut akan menjadi
tolak ukur dan pembelajaran dalam mempersiapkan generasi Islam yang mampu
berperan aktif dalam membangun kehidupan masyarakat yang dinamis, kreatif, dan
berpola pikir lebih maju.
B. Tujuan
Kuliah
Kerja Nyata (KUKERTA) selain sebagai manifestasi dari salah satu Tri Dharma
Perguruan Tinggi yang penuh kepada masyarakat, juga mempunyai hubungan yang
erat antara dunia Islam dengan dunia ilmu pengetahuan, teknologi dan kebutuhan
masyarakat. Oleh sebab itu tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa tujuan umum
Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) juga merupakan tujuan dari pendidikan dan
pengajaran pada tiap-tiap perguruan tinggi.
Dengan
demikian, tujuan khusus Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) dapat dirumuskan sebagai
berikut :
•
Mengintegrasikan mahasiswa dengan masyarakat,
antara lain dengan penyuluhanhukum sehingga hukum-hukum Islam dapat diamalkan
sebagaimana mestinya.
•
Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk
berlatih memecahkan berbagaimasalah kemasyarakatan secara langsung dan praktis,
khususnya dalam masalahyang bertalian dengan disiplin ilmu yang ditekuninya.
•
Memberikan kesempatan kepada mahasiswa agar
berpengalaman mendiskripsikandan merealisasikan rasa ingin tahu (curiosity) mereka melalui prosedur
yangsistematis, yaitu dengan melakukan observasi, identifikasi masalah,
perumusanperumusanprogram, realisasi program, evaluasi dan penyusunan program.
•
Merealisasikan Dharma pengabdian pada masyarakat
dengan melibatkan padamahasiswa secara langsung, pada kurun waktu tertentu di
bawah bimbingansejumlah Dosen untuk mendampingi masyarakat dalam memecahkan
masalahmasalahyang mereka hadapi.
•
Terwujudnya integrasi dan peran serta civitas
akademika IAIN “SMH” Banten dalam memecahkan masalah dan membina serta
mengembangkan kehidupan beragama dan bermasyarakat;
C. Dasar/Landasan
Pelaksanaan
Kuliah Kerja Nayata (KUKERTA) (IAIN) “SULTAN MAULANA HASANUDDIN” BANTEN Tahun
2014 mengacu kepada beberapa landasan
hukum berikut :
•
Undang - undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasional;
•
Undang - undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru
dan Dosen
•
Undang - undang RI Nomor 12 Tahun 2012 Tentang
Pendidikan Tinggi;
•
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang
Standar Nasional Pendidikan
•
Keputusan Presiden RI No.91 Tahun 2004 tentang
Perubahan Status STAIN “SMHB” Serang menjadi IAIN “SMH” Banten;
•
Keputusan Menteri Agama No.383 Tahun 1997
tentang pelaksanaan Kurikulum Nasional Program Sarjana (S1);
•
Keputusan Menteri Agama RI No. 34 Tahun 2008
tentang Statuta IAIN “SMH” Banten
•
Peraturan Menteri Agama RI No. 10 tahun 2013
tentang Organisasi dan Tata Kerja IAIN “SMH” Banten
D. Waktu dan Tempat/Lokasi
Kegiatan
KUKERTA IAIN “Sultan Maulana Hasanudin” Bantendilakukan pada :
Waktu : Kamis, 27 Febuari 2014 sampai
dengan Senin, 07 Maret 2014
Tempat :
Desa Anggalan Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak
E. Manfaat Kegiatan
Adapun
manfaat kegiatan KUKERTA adalah sebagai
berikut :
•
Bagi
Masyarakat
•
Masyarakat memperoleh bantuan tenaga dan pikiran untuk
meningkatkan cara berfikir, pengetahuan, dan keterampilannya, sehingga dapat
menumbuhkan potensi sumber daya dan selajutnya berkembang secara mandiri.
•
Terbentuknya kemampuan dan partisipasi masyarakat dalam
pengembangan potensi lokal, sehingga upaya kelanjutan pembangunan khususnya
dalam bidang agamadapat terjamin.
•
Bagi
Mahasiswa
•
Mendewasakan cara berfikir, bersikap dan bertindak serta
meningkatkan daya penalaran mahasiswa dalam
melakukan pengkajian, perumusan dan pemecahan masalah secara praktis dan
terpadu.
•
Melatih dan membiasakan mahsiswa menghadapi dan
menyelesaikan permasalahan melalui kerjasama antar bidang keahlian.
•
Mendalami penghayatan dan pengetahuan mahasiswa terhadap
berbagai masalah dalam masyarakat yang sedang melaksanakan pembangunan
khususnya di bidang agama.
•
Memperoleh pengalaman sebagai basis pembelajaran dalam
pengorganisasian masyarakat.
•
Bagi IAIN
•
Mendapatkan masukan bagi penyelenggaraan pendidikan
/pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.
•
Meningkatkan partisipasi dan peran IAIN dalam melaksanakan
pembangunan di bidang agama.
•
Meningkatkan kerjasama IAIN dengan pemerintah daerah, perguruan
tinggi, dan instansi lain yang terkait.
BAB II
KONDISI
OBJEKTIF LOKASI
Sebelum
merealisasikan program sangat diperlukan melakukan observasi. Ini bertujuan
agar kita tau kondisi objektif lokasi atau lapangan dengan mencari data-data
kongkrit. Hal ini untuk mensinergiskan antara proyeksi awal dengan situasi dan
kondisi masyarakat baik terkait dengan kondisi sosial dan kultur,
lembaga-lembaga kemasyarakatan maupun birokrasi pemerintah yang ada. Sehingga
dalam perumusan program yang akan direalisasikan bisa tepat pada sasaran yang
dituju.
Disamping
tujuan diatas, observasi medan juga bertujuan supaya peserta KUKERTA dapat
mengambil langkah antisipatif untuk menanggulangi kemungkinan masalah yang akan
dihadapi baik dalam lingkup internal peserta KUKERTA sampai problematika yang
terjadi di lingkungan masyarakat Desa Anggalan Kec. Cikulur Kab. Lebak. Hal ini
diharapkan agar peserta KUKERTA mampu menunjukkan peran dan fungsinya terhadap
lingkungan dan masyarakat.
A.
Sejarah Desa/Kelurahan
Desa Anggalan adalah nama sebuah
kampong di Desa Anggalan yang terletak di RT: 01 RW: 01. Desa ini
terbentuk semenjak tahun 1983 yang
berawal dari pemekaran Desa Muaradua tahun 1983 tersebut.
B.
Kondisi Geografis dan Demografis
Desa
Anggalan termasuk dalam wilayah kecamatan cikulur , kabupaten lebak
berbatasan dengan :
•
Sebelah utara :
Desa tamanjaya
•
Sebelah selatan :
Desa pasirgintung
•
Sebelah barat :
Desa citalahab (kec. Banjar)
•
Sebelah timur :
Desa Muaradua
Desa
yang mempunyai luas 589 Ha dengan rincian sebagai berikut:
•
Tanah Pemukiman :
308 Ha
•
Tanah Perkantoran :
1Ha
•
Tanah Persawahan :
95 Ha
•
Tanah Perkebunan :
178 Ha
•
Tanah Pekarangan : -
•
Tanah Pekuburan : 6 Ha
•
Tanah Prasarana umum :
1 Ha
Berdasarkan pada data monografi dan hasil sensus yang telah
dilakukan aparat desa bersangkutan serta observasi peserta KUKERTA di Desa
Anggalan menununjukan bahwa Desa Anggalan terdiri dari 15 RT dan 4 RW, yaitu:
Nama dusun
•
Anggalan :
RT : 01 RW 01
•
Babakan :
RT : 02 RW 01
•
Umbulan :
RT : 03 RW 01
•
Tegal serang :
RT : 04 RW 01
•
Bojong huni :
RT : 05 RW 02
•
Ciangsana :
RT : 06 RW 02
•
Panongan :
RT : 07 RW 02
•
Ciaul :
RT : 08 RW 02
•
Jaliti :
RT : 09 RW 03
•
Kadubinglu :
RT : 10 RW 03
•
Pasir jengkol :
RT : 11 RW 03
•
Ciwulung :
RT : 12 RW 04
•
Cilangos :
RT : 13 RW 04
•
Jaraja I :
RT : 14 RW 04
•
Jaraja II ;
RT : 15 RW 04
Dengan jumlah penduduk sebanyak 2.883 jiwa. Data yang
diperoleh berkaitan dengan keadaan demografi dideskripsikan sebagai berikut :
•
KEPENDUDUKAN
Jumlah pendudukan menurut :
•
Jenis kelamin
•
Laki-laki :
1.537 orang
•
Perempuan :
1.346 orang
Jumlah :
2.883 orang
•
Agama
•
Islam :
2.883 orang
•
Kristen katholik :
-
•
Kriten protestan :
-
•
Hindu :
-
•
Budha :
-
•
Sarana Pendidikan
•
SMA :
- UNIT
•
SMP :
2 UNIT
•
SD :
1 UNIT
•
MI :
2 UNIT
•
MD :
2 UNIT
•
Tata Pemerintahan
•
Jumlah Aparat Desa
•
Kepala Desa :
1 orang
•
Sekretaris Desa :
1 orang
•
Kepala Urusan (kaur) :
4 orang
•
Badan perwakilan Desa
•
Jumlah anggota BPD :
1 orang
•
Pembinaan RT/RW
•
Jumlah RT : 15 RT
•
Jumlah RW : 4 RW
•
Organisasi sosial
•
Karang taruna :
1 kelompok
•
Kelompok PKK :
1 kelompok
•
Kelompok Tani :
1 kelompok
•
Bidang Pembangunan
•
Agama
•
Sarana peribadatan
•
Jumlah Masjid : 5
unit
•
Jumlah Musholla : 14
unit
•
Kesehatan
•
Bidan :
1 orang
Secara
demografis kebanyakan masyarakat Anggalan bermigrasi ke luar daerah. Setelah
kita amati dan teliti bersama, ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat
Desa Anggalan banyak yang pergi merantau
ke luar desa. Faktor utamanya tentu saja masalah ekonomi. Keadaan
ekologi Desa Anggalan yang sebagian besar adalah tegalan dan sawah tadah hujan yang kurang begitu subur setara
dengan pendapatan masyarakat yang sangat rendah dan kurangnya lapangan
pekerjaan di Desa Anggalan , turut mendorong terjadinya perpindahan penduduk
dari Desa Anggalan ke daerah – daerah lain yang memiliki kesempatan kerja dan
kesempatan ekonomi yang menjanjikan seperti ke Jakarta dan lampung.
Faktor
lain yang mendorong terjadinya migrasi dari Desa Anggalan adalah untuk menambah
pengalaman dengan pergi meninggalkan Desa, di harapkan akan menambah suasana
hidup baru dan mendidik diri agar lebih dewasa. Biasanya sebelum meninggalkan
desanya, masyarakat Desa anggala di bekali dengan berbagai macam didikan
“elmu”, baik itu ilmu agama, maupun ilmu “kanuragan”
untuk membekali diri. Hal ini dilakukan dalam hal berjaga – jaga apabila
sewaktu – waktu mendapat marabahaya yang tidak diinginkan.
Sedangakan
pembekalan secara akademis mayoritas
masyarakat Anggalan masih masuk kedalam kategori pendidikan rendah,
hanya ada 3 orang sarjana saja saat ini yang menyelesaikan S1 nya di sekitar
Lebak. Akhirnya mereka yang bermigrasi ke luar daerah hanya mendapatkan
pekerjan – pekerjaan yang bersifat non formal seperti, menjadi supir, kenek
truk, tukang kebun dan buruh bangunan.
Sistem
migrasi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Anggalan di kategorokan dalam
mobilitas musiman, yakni hanya dilakukan pada saat – saat tertentu saja, hal
ini biasanya terjadi ketika musim panen kopi atau cengkeh di propinsi lampung.
Sedangkan untuk tujuan Jakarta biasanya terjadi apabila ada pekerjaan bangunan,
mereka biasanya bekerja hingga bangunannya seesai. Hal ini bisa terjadi sampai
tujuh bulan, bahkan ada yang sampai satu tahu.
Penyebaran penduduk menurut daerah pedesaan
dan perkotaan tetap menunjukan bahwa sebagian besarpenduduknya bertempat
tinggal di pedesaan. Berdasarkan sensus penduduk tahun 1961 penduduk Desa
Anggalan, yang waktu itu masih bergabung dengan Desa Muaradua seluruhnya
berjumlah 3771 jiwa dengan klasifikasi 1864 orang laki – laki dan 1907 orang
perempuan.
C.
Kondisi Pendidikan Masyarakat
Desa Anggalan merupakan sederetan Desa yang yang kurang
berkembang dibandingkan desa lainya di Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak. Hal
ini ditinjau dari sumber daya manusia (SDM) yang amat kurang terlebih dalam
pendidikan dan kurangnya sarana dan prasarana pendidikan yang berkecukupan
dalam menyongsong kehidupan yang baru.
Masyarakat juga berasumsi bahwa keberadaan pendidikan di era
saat ini bukanlah pendidikan yang merakyat, dengan artian bahwa setiap orang
yang mengharapkan pendidikan mesti harus mengeluarkan biaya tinggi. Masalah ini
juga di perkuat dengan kualitas output pendidikan yang tidak mampu menjamin
kesejahteraan bagi lulusannya.
Adapun sedikitnya sarana dan prasarana pendidikan yang ada
di Desa Anggalan adalah sebagai berikut :
•
PAUD
•
MDA Abdul Anwar
•
SDN 1 Anggalan
•
MTs Alfin Mubarok
•
MTs dan MA Nurul Arfah
Lembaga – lembaga pendidikan tersebut kondisinya kurang
memenuhi standar pemerintah dan juga ditambah lokasi dan jarak yang berjauhan.
Seperti PAUD yang hanya ada satu di Desa anggalan, sedangkan anak – anak di
sana sangat banyak dan jaraknya pun sangat jauh dari kampung ke kampung lainya.
Sehingga hanya sedikit anak yang merasakan lebaga pendidikan tersebut.
D. Kondisi
Ekonomi dan Budaya Masyarakat
Desa Anggalan ini merupakan Desa yang dari segi ekonomi bisa
dikatakan kurang maju, karena dilihat dari perkembangan ekonomi masyarakat yang
stagnan dari tahun ke tahun, sehingga masayarakat Desa Anggalan ini hanya
mengandalkan dari hasil pertanian, perkrbunan, pembuat batu bata dan
pengrajinan tikar anyaman yang terbuat dari daun pandan duri. Masyarakat Desa
Anggalan, mayoritas setiap pagi masyarakat laki-laki dan perempuan menjadi
buruh tani dan menyadap karet, tapi ada pula sebgian perempuan menjadi pengrajin tikar. Desa
Anggalan mempunyai potensi kerajinan anyaman tikar yang terbuat dari pandan
duri, namun penghasilan mereka masih belum mencukupi kebutuhan pokok
sehari-hari karna harga anyaman tersebut terbilang murah.
Berikut beberapa profesi mata pencaharian di Desa Anggalan :
•
Petani :
1.185 orang
•
PNS :
4 0rang
•
Pensiunan PN/TNI :
1 orang
•
Swasta :
116 orang
•
Bidan swasta :
2 orang
•
Dukun kampung :
1 orang
•
Produk domestik Desa Anggalan
•
Tanaman padi
•
Luas tanaman padi : 95 ha
•
Hasil per ha : Rp. 5.200.000,-
•
Biaya pemupukan per ha : Rp. 500.000,-
•
Tanaman jagung
•
Luas tanaman jagung : 4 ha
•
Hasil per ha : Rp. 8.000.000,-
•
Biaya pemupukan per ha : Rp. 200.000,-
•
Tanaman pohon karet
•
Luas tanaman pohon karet : 6 ha
•
Hasil per ha : Rp. 24.000.000,-
•
Biaya bibit per ha : Rp. 2.000.000,-
•
Rumah menurut dinding
•
permanen : 191 keluarga
•
Panggung : 185 keluarga
•
Semi permanen : 58 keluarga
•
Pemilik barang berharga
•
Jumlah kepala keluarga :
500 keluarga
•
Jumlah keluarga memiliki TV :
107 keluarga
•
Jumlah keluarga memiliki motor : 135 keluarga
•
Jumlah keluarga memiliki mobil : 6 keluarga
•
Jumlah keluarga memiliki ternak : 5 keluarga
Secara kebudayaan Desa Anggalan merupakan daerah tertinggal
dalam kebudayaanya. Yang mana dalam hal ini kondisi budaya di desa Anggalan
perlu diungkapkan untuk memberikan penjelasan kemungkinan adanya keterkaiatan
antara hal tersebut dengan peranan Jawara dalam pemilihan kepala Desa Anggalan.
Masyarakat Desa Anggalan priode 1960-1992 lebih memilih pendidikan nonformal dari pada
pendidikan yang telah direncanakan pemerintah. Pada pola pendidikan nonformal
yang ada di Desa Anggalan adalah pondok pesantren. Pondok pesantren yang dibina
oleh guru ngaji yang disebut kyai. Desa Anggalan pada khususnya dan desa-desa
di provinsi Banten pada umumnya mayoritas beragama islam, hal ini terbukti
dengan adannya tempat-tempat ziarah yang oleh umat islam di anggap sebagai
karomah dari golongan para An-biya seperti: makam Syekh Sultan Hasanuddin Banten,
Syekh Maulana Mansur Cikaduen, Syekh Nawawi Caringin dan lain-lain.
Lain halnya dengan agama yang dianut oleh orang Kanekes (
Baduy) yaitu agama Sunda Wiwitan, wiwitan berarti mula ( pertama), asal, pokok,
jati. Isi ajaran agama sunda Wiwitan hanya diketahui serba sedikit, karena
orang Kanekes bersifat tertutup dalam hal lini. Dari pengetahuan serba sedikit
itu jika di deskripsikan adalah sebagai berikut: Kekkuasaan tertinggi berada
pada Sang H iyang Kresna ( Yang Maha
Kuasa ) atau nungersakaeun ( yang menghendaki). Ia disebut juga Batara Tunggal
(Tuhan Yang Maha Esa), Batara Jagat (Penguasa Alam) dan Batara Seda Niskala
(Yang Gaib). Ia bersemayam di Buana
Nyunngcung.
E.
Sosial dan Keagamaan
Masyarakat Desa Anggalan yang mayoritas beragama islam,
keteguhan dan keyakinan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa ditanamkan secara
moral oleh guru-guru ngaji merka. Hal ini dapat dilihat dari keseharian
penduduk Desa Anggalan terutama anak-anak yang setiap hari menjelang maghrib
mereka akan berkumpul serta berangkat bersama-sama menuju rumah milik seseorang
Ustadz yang berada di Desa Anggalan yang
bisa menjadi tempat anak-anak untuk belajar mengaji serta belajar mengenal
keislaman.
Fenomena ini merupakan suatu hal yang rutin yang bisa kita
temukan di kampung-kampung di Desa Anggalan pada era sampai tahun 90an. Namun
seiring dengan kemajuan zaman, kegiatan ini semakin berkurang. Pada setiap
kampung di Desa Anggalan biasannya terdapat sebuah mushola (langgar) yang sangat
sederhana yang berupa bangunan yang berbentuk rumah panggung tanpa kamar-kamar,
setiap mushola biasanya memiliki sumur timba dan sebuah bedug yang terbuat dari
kulit kerbau. Setelah sholat maghrib anak-anak Desa Anggalan pergi mengaji,
sedangkan sebagian orang tua tetap tingal sambil ngawangkong adu bako sambil menunggu sholat waktu sholat isya.
Di Desa Anggalan terdapat beberapa buah masjid yang
digunakan untuk ibadah sholat lima waktu maupun ibadah sholat Jum’at. Hal ini
disebabkan karena wilayah Desa Anggalan sangat luas dan dibatasi oleh pesawahan
yang curam/ gedeng. Sehingga antara
kampung yang satu dengan yang lainnya jaraknya sangat berajuhan. Masjid -
masjid tersebut terdapat di kampung Cikalanghang, Pasirtanjung, Cituriang,
Cibodas, Ciaul, Ciulung dan Jaraja.
Kepercayaan terhadap adat lama biaasanya masih culup kental
bagi masyarakat Desa Anggalan pada periode 1960-1992, hal ini dapat dilihat
dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pada setiap RT diadakan berbagai macam kegiatan keagamaan
yang bersifat mingguan seperti pengajian yang dilaksanan ibu-ibu di siang hari
dan bapak-bapak dilaksanakan malam harinya.
G.
Permasalahan Desa
Melihat
penjelasan tentang kondisi umum masyarakat Desa Anggalan di atas, maka secara
generalisasi, ada beberapa hal yang menjadi persoalan atau problem masyarakat
desa, yaitu :
•
Kesadaran Masyarakat Terhadap Pentingnya Pendidikan Yang
Masih Kurang
Problem ini sebabkan oleh satu asumsi masyarakat yang menyatakan bahwa keberadaan pendidikan di era saat ini bukanlah pendidikan yang merakyat, dengan artian bahwa setiap orang yang mengharapkan pendidikan mesti harus mengeluarkan biaya tinggi. Masalah ini juga di perkuat dengan kualitas output pendidikan yang tidak mampu menjamin kesejahteraan bagi lulusannya.
Problem ini sebabkan oleh satu asumsi masyarakat yang menyatakan bahwa keberadaan pendidikan di era saat ini bukanlah pendidikan yang merakyat, dengan artian bahwa setiap orang yang mengharapkan pendidikan mesti harus mengeluarkan biaya tinggi. Masalah ini juga di perkuat dengan kualitas output pendidikan yang tidak mampu menjamin kesejahteraan bagi lulusannya.
•
Masalah Ekonomi
Masalah ekonomi yang dihadapi masyarakat Desa Anggalan
antara lain kurang adanya penyuluhan-penyuluhan tentang bagaimana masyarakat
bisa membuka usaha. Keterbatasan pendidikan mejadi faktor utama terhambatnya
pengembangan industri rumahan ini. Karna mereka bingung harus kemana mereka
menjual dan mendistribusikannya.
Kemiskinan juga di latar belakangi oleh minimnya skill dan kreatifitas
masyarakat, dan etos kerja yang rendah. Informasi ini kami dapatkan setelah
kami melakukan wawancara ke beberapa warga Desa Anggalan.
•
Masalah Keagamaan
Kepercayaan terhadap adat lama biaasanya masih culup kental
bagi masyarakat Desa Anggalan, hal ini dapat dilihat dari kehidupan masyarakat
sehari-hari. Masyarakat Anggalan priode lebih memilih pendidikan nonformal dari
pada pendidikan yang telah direncanakan pemerintah. Pada pola pendidikan
nonformal yang ada di Desa Anggalan adalah pondok pesantren. Pondok pesantren
yang dibina oleh guru ngaji yang disebut kyai, sehingga ini menjadi masalah
yang kompleks dalam kaitannya dengan agama dan pendidikan.
F.
Potensi Desa
Masalah-masalah
yang sering dihadapi oleh masyarakat Anggalan bagitu kompleks, karena secara
general SDM masyarakat Desa Anggalan
sangat rendah yang di picu oleh keterbatasan pendidikan dan pengalaman
msyarakat itu sendiri, padahal potensi alam mereka melimpah. Hal inilah yang
menyebabkan terbelitnya masyarakat Desa Anggalan ke dalam persoalan kemiskinan
dan keterbelakangan, sehingga perkembangan kehidupan mereka begitu lambat.
Sebelum
membahas lebih jauh tentang masalah-masalah yang sering dihadapi masyarakat
Desa Anggalan alangkah lebih baiknya, jika kita harus mengetahui bagaimana
masalah – masalah tersebut di identifikasi dan di analisis.
BAB III
ANALISIS MASALAH DAN RENCANA AKSI
A.
Identifikasi Masalah
Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) tahun 20114 ini menggunakan
metode PAR sebagai media untuk melakukan penelitian di masyarakat, metode ini
sangat tepat. Metode Participatory Action Research (PAR) adalah sebuah metode
pemahaman lokasi dengan belajar dari, untuk, dan bersama masyarakat. Metode dan
pendekatan ini sangat membantu untuk memahami dan menghargai keadaan dan
kehidupan dilokasi atau wilayah secara lebih mendalam.
Terdapat prinsip-prinsip yang harus dipenuhi dalam
menerapkan metode PAR ini. Di antaranya; Peserta KUKERTA yang terdiri dari
berbagai multidisiplin, yakni dari masyarakat desa laki-laki dan perempuan,
dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi juga masyarakat dari luar.
Seluruh masyarakat diharapkan berpartisipasi secara aktif dalm seluruh
kegiatan. Keterlibatan masyarakat disini dapat membantu menginterpretasi,
memahami dan menganalisa informasi yang diperoleh.
Selain diperoleh observasi langsung terhadap lokasi atau
wilayah sumber informasi juga diperoleh melalui interview dan diskusi dengan
masyarakat setempat. Selanjutnya informasi yang di dapat dituangkan dalam
bentuk tulisan maupun diagram. Dalam penggalian informaasi harus di pilih
informasi yang benar-benar tepat guna meliputi kejadian-kejadian penting dan
proses berlangsungnya kejadian tersebut. Pesrta KUKERTA harus senantiasa melihat
kembali dan menganalisa hasil temuan untuk menghindari arah selanjutnya, maka
diperlukan sifat kehati-hatian.
Metode yang
diterapkan dalam KUKERTA PAR memberikan kontribusi yang cukup besar bagi
perkembangan desa. Masyarakat desa dari berbagai elemen turut berpartisipasi
dalam kemajuan desanya. Dimulai dari teknik pemetaan (mapping) yang menggambarkan kondisi geografis Desa Anggalan,
penelusuran desa untuk mengetahui kondisi fisik dan sosial desa yang disebut
dengan kegiatan transect, perlu juga adanya pembuatan timeline guna memahami
keadaan masyarakat masa kini dengan mengetahui latar belakang masa lalu melalui
peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat di masa lalu. Selanjutnya
digambarkan pula bagan perubahan dan kecenderungan (trend and change) untuk memperkirakan arah kecenderungan umum dalam
jangka panjang serta mampu mengantisipasi kecenderungan tersebut.
Yang juga
tidak bisa dilewatkan adalah pembuatan kalender musim (season kalender) yang digunakan untuk mengetahui kegiatan utama,
masalah, dan kesempatan dalam siklus tahunan di Desa Anggalan. Selanjutnya
digambarkan pula suatu bentuk diagram yang disebut dengan Diagram Venn yang
digunakan untuk melihat hubungan masyarakat dengan lembaga yang terdapat di
desa (Lingkungan) Anggalan. Untuk menggambarkan arus dan hubungan diantara
semua pihak dan komoditas yang terlibat dalam suatu sistem diperlukan Diagram
Alur.
Analisa
tentang akar masalah yang muncul di Desa Anggalan serta harapan-harapan untuk
penyusunan program aksi selanjutnya dituangkan dalam bentuk Pohon Masalah dan
Pohon Harapan selanjutnya dalam menentukan masalah dari segi penting atau
tidaknya bagi masyarakat dapat dilihat dari Matrik Rangking.
B. Metode
dan Teknik yang digunakan
•
Membuat
Alur Sejarah (Time Line)
•
Pengertian
Timeline adalah teknik penyelusuran
alur sejarah suatu masyarakat dengan menggali kejadian penting yang pernah
dialami pada alur waktu tertentu.
•
Tujuan
Dengan timeline masyarakat dapat
mengungkapkan kembali alur sejarah wilayah desa Anggalan yang meliputi :
topik-topik penting yang terjadi pada tahun-tahun tertentu, selain itu untuk
mengetahui kejadian-kejadian yang ada di dalam masyarakat desa anggalan secara
kronologis , serta untuk mengetahui kejadian penting masa lalu yang
mempengaruhi kehidupan masyarakat.
•
Proses dan
Hasil KegiatanTime Line
Kegiatan timeline ini dilaksanakan
pada hari senin tanggal 10 maret 2014 pukul 13.00 WIB di rumah bapak Muktar
selaku narasumber sekaligus sebagai tokoh masyarakat di desa anggalan .
Priode
(Tahun)
|
Kejadian
/ Peristiwa
|
1983
|
Terbentuknya
Desa Anggalan yang berawal dari pemekaran Desa Muaradua
|
1993
|
Banyak
masyarakat yang bermigrasi ke kota - kota
|
1995
|
Pembangunan
Kantor Desa
|
1999
|
Mulai
Pembangunan Mesjid dan Mushola
|
2000
|
Masyarakat
Anggalan mulai membangun sarana dan prasarana pendidikan seperti SD Anggalan
1
|
2009
|
Masyarakat
Anggalan mulai membangun MTs Alfin Muarok yang di gagas oleh seorang sarjana
yang ada di Desa Anggalan
|
2010
|
Membangun
Pondok Pesantren Modern Nurul Arfah yang di gagas oleh salah satu masyarakat
Anggalan yang lulus dari Ponpes Gontor bernama Ustd. Aeng
|
2008
|
Masyarakat
Anggalan mempunyai Bidan bernama Bidan Neneng
|
2005
|
Jalan
– jalan Desa di Aspal
|
•
Transect (
Transector )
•
Pengertian
Transect dalam bahasa adalah cross
section yang berarti melintas suatu daerah, menelusuri, atau potongan kompas,
secara terminologi transect adalah kegiatan yang dilakukan oleh tim PAR dan
Narasumber Langsung ( NSL ) untuk berjalan menelusuri suatu wilayah untuk
mengetahui tentang kondisi fisik seperti tanah, tumbuhan, dll. Dan kondisi
sosial seperti kegiatan sosial masyarakat, pembagian kerja laki-laki dan
perempuan, masalah-masalah yang sedang dihadapi, perlakuan-perlakuan yang telah
dilakukan dan rencana-rencana yang akan dilakukan.
Jadi transect merupakan tekhnik
pengamatan secara langsung di lapangan denngan cara berjalan menelusuri wilayah
desa, di sekitar hutan, atau daerah aliran sungai yang dianggap cukup memiliki informasi
yang dibutuhkan, hasilnya digambar dalam diagram transect atau gambaran irisan
muka bumi.
•
Tujuan
Transect
Kegiatan transect ini bertujuan
untuk mengetahui dan memahami potensi dan masalah-masalah pemukiman di Desa
Anggalan seperti tanah, kondisi fisik, sumber air, tata ruang, tofografi,
teknologi, pengelolahan lahan, tumbuhan, dan fasilitas kesejahteraan yang
meliputi dan pasar.
•
Proses dan
Hasil Kegiatan Transect
Kegiatan transect di Desa Anggalan
dilaksanakan bersamaan dengan mapping, yakni dilakukan dalam dua tahap, tahap
pertama dilaksanan di desa Anggalan pada hari rabu tanggal 06 maret 2014 pukul
10.00- 18.00 WIB. Di balai desa Anggalan kegiatan ini dihadiri oleh 6 orang,
mapping tahap kedua dilaksanakan paada hari jumat tanggal 08 maret 2014 pukul
19.00-22.00 WIB di balai desa Anggalan. Kegiatan ini dihadiri oleh sebagian
masyarakat dari Desa Anggalan.
TRANSECTOR
SOSIAL DESA ANGGALAN KECAMATAN CIKULUR KABUPATEN LEBAK
TOPIK/
ASPEK
|
KEGIATAN
|
PENDANAAN
|
PERMASALAHAN
|
AKIBAT
|
SOLUSI
|
SARANA
|
KETERANGAN
|
KEAGAMAAN
|
-Kegiatan
pengajian ibu-ibu
-Kegiatan
pengajian bapak-bapak
|
- tidak ada sumbangan
|
-keterbatasan dana
-Lokasi Masjid yang jauh
|
-Hanya sedikit yang menghadiri pengjian tersebut
|
-Masyarakat membangun sarana tranportasi
|
-mushola
|
Saling menghargai satu sama lain
|
EKONOMI
|
-pengrajin samak dari daun pandan
-Petani
-Bata
-Perkebunan
|
-Suadaya Masyarakat
|
-penjualan hasil kerajinan
minim
-Pendidikan yang minim
-pupuk langka
-banyak para pemuda yang meranatu
|
-Masyarakat anggalan termasuk kedalam masyarakat tertinggal
|
-dibukannya lapangan pekerjaan dan terbentuknya komunitas usaha dan
Pelatihan
|
-Sawah,Tegalan dan SDM
|
persentasi:
-bertani:
70%
Lain-lain:
30%
|
PENDIDIKAN
|
-program pemerintah wajib belajar 9 tahun saangat membantu
|
-bantuan pemerintah seperti BOS
-sumbangan lembaga (donatur/organisasi)
|
-Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan sangat kurang.
-Masyarakat terkesan tidak mau berproses
|
-tingkat pendidikan rendah
-banyaknya pengganguran
-banyak pemuda yang merantau ke kota - kota
|
-penyuluhan pendidikan
-membentuk komunitas pendidikan (TBM)
|
-PAUD, SD, MTs
|
-
|
KESEHATAN
|
-Posyandu keliling
|
-Pribadi
|
-Belum ada sarana dan prasarana posyandu
|
-Seringkali tidak berjalannya penyuluhan Kesehatan
|
-Peningkatan anggaran desa untuk kesehatan
|
-Balai Desa
|
-Saling menjaga kesehatan terutama untuk ibu hamil
|
SOSIAL
BUDAYA
|
-Kerja bakti
|
-Suadaya Masyarakat
|
-Masyarakat belum Kurangnya kekompakan ketika ada kerja bakti
|
- masyarakat kurang mau kerja paguyuban
|
-Penyuluhan masyarakat akan pentingnya bekerja sama dan kompak antar
masyarakat
|
-Kantor Desa
|
-
|
TRANSECT
GEOLOGIS DESA ANGGALAN KECAMATAN CIKULUR KABBUPATAEN LEBAK
TOPIK/ASPEK
|
KONDISI
|
TANAMAN
|
MASALAH
|
PENYELESAIAN
|
HARAPAN
|
RENCANA
KE DEPPAN
|
KET
|
PEMUKIMAN
DAN PERUMAHAN
|
-merupakan perbukitan sehingga
ketinggian ruma bermacam-macam
-kebanyakan rumah masih berupa bilik
dan kayu.
|
-tanaman yang biasa ditanam yaitu rambutan, jambu dan pisang, jengkol
dan palawija.
|
-masyarakat masih belum bisa mengembangkan area tanaman dan
persawahanya
|
-pelatihan dan penyuluhan
|
Adanya perubahan dalam bidang ekonomi
|
-membuat kelompok tani atau GAPOKTAN
|
-
|
JALAN
|
-jalan naik turun
-akses jalan masih rusak banyak batu dan krikil
|
-samping kanan kiri jalan ada pohon seperti pohon bambu dan karet
|
-becek jika hujan
-berdebu jika panas
|
-segera dibangun
|
-segera dibangun askes perjalanan menuju desa anggalan dan
sekeitarnya
|
-Jalan –jalan di aspal dan selokan di semen
|
-
|
SAWAH
|
-banyak mengandung tanah liat
-pengairan sawah dari hujan
|
-padi, jagung dan kacang - kacangan
|
-kekurangan air
|
-membangun irigasi
|
-ada irigasi
|
Membangun sumber air yang bisa di salurkan ke
sawah - sawah
|
|
TEGALAN
|
-Kebanyakan merupakan tanah liat
-banyak di manfaatkan untuk membuat bata
|
-banyak lahan yang kurang di manfaatkan dengan maksimal
|
- tandus
-kurang air
|
-
|
-
|
-
|
-
|
•
Mapping
(Pemetaan)
•
Pengertian
Mapping atau suatu teknik dalam PAR
untuk menggali informasi yang meliputi sarana fisik dan kondisi sosial dengan
menggambar kondisi wilayah secara umum dan menyeluruh menjadi sebuah peta. jadi
merupakan pemetaan wilayah dengan menggambar kondisi wilayah (Desa,Kampung,RT,atau
wilayah yang lebih luas) bersama masyarakat.
•
Tujuan
Dengan mapping dapat memberikan
gambaran wilayah Desa Anggalan secara menyeluruh dan dapat menggali data
wilayah Desa Anggalan secara lengkap. Hasil dari mapping ini dapat digunakan untuk
mengarah kepada teknik-teknik lain.
•
Proses dan
Hasil Kegiatan Mapping
Mapping Desa Anggalan dilaksanakan
di kampung cipurut pada hari selasa jam 10.00-13.00 WIB dibalai Desa kampung
cipurut. Kegiatan ini dihadiri oleh sebagian perangkat Desa dan sebagian warga
yang berjumlah 10 orang.

Mapping yang telah dilakukan menggambarkan kondisi fisik
Desa Anggalan. Secara geografis. Desa Anggalan termasuk daerah dataran rendah
da nada bukit – bukit mengitarinya sehingga berhawa dingin ketika malam dan
pagi hari. Masih banyak pula ditemui jalan setapak, namun jalan utama sudah
berbatu. Area persawahan cukup luas dan selalu dimanfaatkan, terlihat banyak
sawah yang masih hijau. Tanaman yang banyak ditanam adalah padi, jagung, pohon
karet, kacang-kacangan, dan buah-buahan.
•
Diagram
Venn
•
Pengertian
Diagram Venn merupakan teknik untuk
melihat hubungan masyarakat dengan lembaga yang terdapat diDesa (dan
lingkungannya) . Diagram Venn memfasilitasi diskusi-diskusi masyarakat untuk
mengidentifikasi pihak-pihak apa yang berada diDesa serta menganalisa dan
mengkaji perannya , kepentingannya untuk masyarakat dan manfaat untuk
masyarakat . Lembaga yang dikaji meliputu lembaga-lembaga local ,
lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga swasta (termasuk lembaga swadaya
masyarakat) . Diagram Venn bisa sangat umum atau topical; mengenai
lembaga-lembaga tertentu saja misalnya yang kegiatannya hubungan dengan
penyuluhan pertanian , kesehatan saja atau pengairan saja .
•
Tujuan
Diagram Venn
Tujuan diagram venn ini adalah untuk
memperoleh data pengaruh lembaga/tokoh masyarakat yang ada diwilayah Desa
Anggalan terhadap kehidupan dan persoalan masyarakat Desa Anggalan , baik
laki-laki maupun perempuan serta untuk mengetahui tingkat kepedulian dan
frekuensi lembaga atau tokoh masyarakat dalam membantu memecahkan persoalan
yang dihadapi oleh masyarakat Desa Anggalan.
•
Proses
Kegiatan
Setelah melihat kondisi sosial di
Desa Anggalan , maka dapat digambarkan kedalam sebuah diagram venn bahwa
lembaga keagamaan memberikan pengaruh yang sangat besar kepada masyarakat .
Kelompok karangtaruna juga ikut memberikan pengaruh yang cukup .
•
Hasil
Diagram Venn Desa Anggalan

Diagram
Venn
Gambar diagram venn di atas adalah gambaran pola komunitas
masyarakat desa Anggalan, dimana terdapat keorganisasian atau lembaga yang hidup di desa Anggalan. Keberadaan
keorganisasian di masyarakat Anggalan seperti karang taruna dan kelompok tani
kurang berpengaruh di masyarakat terutama dalam kegiatan keremajaan dan
pembinaan masyarakat Anggalan. Hanya lembaga pendidikan yang berjalan karna
dirasa penting dan diperlukan oleh masyarakat Aggalan.
•
Trend and
Change (Bagan Perubahan dan Kencendrungan)
•
Pengertian
Bagan perubahan dan kencendrungan
merupakan teknik PRA yang memfasilitasi masyarakat dalam mengenali perubahan
dan kencendrungan berbagai keadaan , Kejadian serta kegiatan masyarakat dari
waktu kewaktu . Hasil digambar dalam suatu matriks . Dari besarnya perubahan
hal-hal yang diamati dapat diperoleh gambaran adanya kencendrungan umum
perubahan yang akan berlanjut dimasa depan . Hasilnya adalah bagan atau matriks
perubahan dan kencendrungan yang umum Desa atau yang berkaitan dengan topic
tertentu , misalnya jumlah pemeluk agama islam , jumlah mushollah , jumlah
masjid , jumlah majlis taklim , dan lain-lain .
•
Tujuan
Trend and Change
Tujuan kegiatan tend and change ini adalah untuk
mengetahui kejadian masa lalu dalam rangka memprediksi kejadian pada masa yang
akan datang serta untuk mengetahui hubungan sebab akibat dalam mengetahui
factor yang paling mempengaruhi suatu fenomena . Dengan bagan perubahan,
masyarakat Desa Anggalan dapat memperkirakan arah kencendrungan umum dalam
jangka panjang serta mampu memngantisipasi kencendrungan tersebut .
•
Hasil
Trend And Change di Desa Anggalan
Data/
tahun
|
2000
|
2003
|
2006
|
2010
|
Keteranagan
|
Kepemilikan
Lahan
|
Menurun
|
-
|
-
|
-
|
Dibagi
kepada anak
|
Jumlah
Penduduk
|
Naik
|
-
|
-
|
-
|
Tingkat
kelahiran lebih banyak
|
Sarana
Pendidikan
|
Naik
|
-
|
-
|
-
|
SD,
MTs, PAUD
|
•
Analisa
Pohon Masalah dan Harapan
•
Pengertian
Disebut teknik analisa masalah
karena melalui teknik ini, dapat dilihat ‘akar’ dari suatu masalah, dan kalau
sudah dilaksanakan, hasil dari teknik ini kadang-kadang mirip pohon dengan akar
yang banyak. Analisa Pohon Masalah sering dipakai dalam masyarakat sebab sangat
visual dan dapat melibatkan banyak orang dengan waktu yang sama.
•
Tujuan
Analisis Pohon Masalah dan Harapan
Untuk menulusuri penyebab suatu
masalah dan memecahkan suatu masalah sehingga dapat melihat pengabab yang
sebenarnya.
•
Proses
Kegitan
Dari berbagai masalah yang ada Desa
Anggalan, ternyata dapat disimpulkan bahwa masalah Pendidikan adalah masalah
yang paling serius sehingga sangat dibutuhkan perhatian yang khusus. Maka
dilakukanlah analisis terhadap akar-akar masalah dan harapan-harapan yang dapat
digambarkan menyerupai sebuah pohon lengkap dengan akar-akarnya.
•
Hasil
Analisis Pohon Masalah

•
Hasil
Analisis Pohon Harapan
Pembentukkan Lapangan Kesejahteraan
meningkat Keshalihan
Remaja
kerja baru
Pendidikan
Tinggi
Akses
Sekolah Dekat Akses jalan Peningkatan orang tua Paham akan Perhatian pemerintah Sejahtera
baik status pendidikan pentingnya pendidikan
Jalur Pendidikan
Mengadakan Membuat Komunitas Mengadakan sosialisasi
Pelatihan
Kewirausahaan yang peduli terhadap
pendidikan dan penyuluhan
Pendidikan seperti TBM
•
Season
Calender (Kalender Musim)
•
Pengertian
Seasonal Calender adalah dua kata
dalam bahasa inggris yang masing-masing artinya sebagai berikut : Seasonal
adalah jadwal permusim , sedangkan arti calendar adalah penAnggalan . Sebagai
terminology dalam teknik PRA arti seasonal Calender adalah suatu keknik PRA
yang di pergunakan untuk mengetahui kegiatan utama , utama , masalah , dan
kesempatan dalam siklus tahunan yang dituangkan dalam bentuk diagram . hasinya
, yang digambar dalam suatu ‘kalender ‘ dengan bentuk matriks , merupakan informasi
penting sebagai dasar pengembangan rencana program .
•
Tujuan
Season Calender
Tujuan kegiatan analisa season
calender adalah untuk mengetahui pola kehidupan masyarakat Desa Anggalan pada
siklus musim tertentu . Mengidentifikasi siklus
waktu sibuk dan waktu luang masyarakat Desa Anggalan . Mengetahui siklus
masalah yang di hadapi masyarakat Desa Anggalan pada musim-musim tertentu serta
mengetahui siklus peluang dan potensi yang ada pada musim-musim tertentu.
•
Hasil
Season Calender Desa Anggalan

Kalender
musim desa Anggalan yang telah dibuat meliputi curah hujan, jenis tanaman yang
ditanam, tenaga kerja, kebutuhan hidup dan keagamaan. Curah hujan di desa
Anggalan rendah pada bulan September, pada bulan Oktober curah hujan sedang,
curah hujan tinggi pada bulan November
dan Desember, sedangkan pada bulan Januari curah hujan sangat tinggi, dan pada
bulan Februari, Maret, April curah hujan di desa Anggalan cenderung rendah.
Jenis tanaman yang ditanam di desa Anggalan adalah padi, pohon karet, jagung,
dan singkong. Penanaman padi
dilaksanakan pada bulan September dan bulan Januari
•
Diagram
Alur
•
Pengertian
Diagram alur merupakan tekhnik untuk menggambarkan arus dan
hubungan diantara semua pihak dan komoditasyang terlibaat dalam suatu sistem.
Diagram ini dapat digunakan untuk menganalisa alur penyebaran kayakinan dan
tata nilai keagamaan dalam masyarakat.
•
Tujuan
Diagram Alur
Untuk menganalisa danmengkaji suatu sistem dan mencari
sisitem dan mencari hubungan anatara pihak-pihak dalam sistem, termasuk
bentuk-bentuk ketergantungan. Dan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat
tentang posisimereka sekarang.
•
Hasil
Diagram Alur Desa Anggalan
Elit
Desa
Kyai Desa
Kesadaran
Pendidikan Rendah
SD/MTs
Orang Tua
Kesejahteraan menurun
Remaja Keorganisasian
Pengangguran
Anak
•
Matrik
Rangking (Bagan Peringkat)
•
Pengertian
Kata Matrik Ranggking berasal dari
kata bahasa Inggris. Matrix artinya
susunan dalam bentuk kolom. Ranking artinya
urutan, posisi, kedudukan, penggolongan. Dengan demikian arti terminologimatrix
rangking adalah suatu bentuk PRA yang dipergunakan untuk menganalisa dan membandingkan topik yang telah
diindentifikasi dalam bentuk ranking/scoring atau menempatkan topic menurut
urutan penting tidaknya topik bagi masyarakat.
•
Tujuan
Memfasilitasi masyarakat Desa
Anggalan untuk membuat urutan prioritas pilihan ‘masalah’ yang paling penting
dan menDesak untuk segera dicarikan jalan keluarnya. Memfasilitasi masyarakat
memilih prioritas masalahnya secara objektif dan demokratis serta sistematis,
serta memfasiitasi dalam memilah dan memilih masalahnya secara objektif dan
rasional.
•
Proses
Setelah dilakukannya analisa pohon
masalah, tentang kesadaran tentang pendidikan rendah yang meliputi : pengaruh
penghasilan masyarakat rendah, kurangnya kepedulian pemerintah, dan masyarakat yang
kurang faham tentang pendidikan. Dari bebagai penyebab kesadaran masyarakat tentang pendidikan yang
rendah
Hasil Matrik Rangking (Bagan Peringkat) Desa Anggalan
No
|
Masalah
|
Sebab
|
Akibat
|
Scoring
|
Jumlah
Scoring
|
Rangking
|
|||
SDM
|
Dana
|
Penting
|
Kemungkinan
|
||||||
1.
|
Pengangguran
|
•
Pendidikan Rendah
•
Kurang keterampilan
|
•
Kriminalisasi
|
7
|
7
|
8
|
6
|
28
|
3
|
2.
|
Sarana Pendidikan
Terbatas
|
•
Keterbatasan dana
•
Tingkat ekonomi rendah
|
•
Kuranngnya bangunan sekolah
|
8
|
8
|
8
|
6
|
30
|
1
|
3.
|
Pendidikan dari
orang tua
|
•
Kebanyakan orang tua bertani
•
Pendidikan orang tua yang rendah
|
•
Pemahaman anak tentang pendidikan rendah
|
6
|
7
|
7
|
6
|
26
|
5
|
4.
|
Pengaruh
Lingkungan
|
•
Berkembangnya arus globalisasi “rantau” demi kehidupan yang lebih
baik
|
•
Kurangnya ekonomi dalam kehidupan
|
8
|
7
|
6
|
6
|
27
|
4
|
5.
|
Akses Jalan Rusak
|
•
Keterbatasan Dana
|
•
Kurangnya sosialisasi dan partisipasi elit desa
|
7
|
8
|
8
|
6
|
29
|
2
|
Matrik
Rangking
Berangkat dari analisa terdapat hasil time line maka masyaraka tdapat mengurutkan masalah-masalah mulai
dari yang dianggap ringan hingga masalah yang paling berat mengenai penyebab
rendahnya pendidikan yang
terjadidiDesaAnggalan. Pengurutan masalah dari segi pioritasnya sangat penting
dilakukan karena dengan mengatahui masalah Urgen maka dengan mudah mencari
solusinya. Dari berbagai masalah yang ada diDesa Anggalan, terdapat 5 masalah
yang dianggap prioritas yakni: pengangguran, pengaruh media teknologi,
rendahnya status pendidikan, pendidkan orang tua,
Dan sarana prasarana
jalan serta angkutan umum. Terhadap 5
masalah tersebut, masyarakat memberikan skor tertinggi masalah sarana dan
prasarana jalan serta angkutan umum. Hal ini dapat dipungkiri karena sarana dan
prasarana jalan serta angkutan umum tidak mengalami perkembangan.Ini semua
mereka dikatakan tidak pedulinya pemerintah dengan masyarakat.
Sebenarnya pencegahan terhadap akibat buruk sarana jalan
serta angkutan umum ini membutuhkan penangan yang sulit, namun dalam
realitasnya akibat yang ditimbulkan oleh dampak buruk, ini mendapat perhatian
yang khusus dengan menduduki Rangking pertama dalam urutan perangkingan masalah
yang dibuat.Dampak buruk tentang saran jalan serta angkutan umum sangat sulit
untuk dilakukan penangannnya yang sudah mulai menyerang masyarakat karena
hampir setiap waktu masyarakat bersinggungan dengan sarana jalan serta angkutan
umum dan kehidupan masyarakat selamanya.
BAB IV. PELAKSAAN PROGRAM
A. Tahap
Pra Pelaksanaan dan Pelaksanaan Program
Berbagai rumusan program kerja dirancang oleh peserta Kuliah
Kerja Nyata (KUKERTA) Desa Anggalan secara bersama-sama melalui rapat internal.
Rumusan tersebut dirancang setelah mendapatkan berbagai data dari hasil
observasi. Dalam merumuskan rancangan program kerja, dilakukan identifikasi
terhadap program-program yang diproyeksikan sebagai program unggulam agar
sesuai dengan kondisi social buadaya masyarakat Desa Anggalan.
Rumusan program tersebut dibuat oleh masing-masing kelompok
kerja (POKJA) yang terdiri dari tiga POKJA yang sudah dibentuk. Kemudian
dibahas bdan di evaluasi secara kolektif oleh peserta KUKERTA Desa Anggalan,
selanjutnya disosialisasikan kepada masyarakat sehingga program kerja tersebut
siap untuk direalisasikan secara sistematis dan optimal bagi masing-masing POKJA.
•
Kelompok
Kerja (Pokja) Bidang Perekonomian
•
Pengembangan
Anyaman Pandan
•
Sasaran :
Masyarakat Desa Anggalan yang pandai membuat anyaman pandan di rumah.
•
Target :
Bersosialisasi dengan masyarakat sambil mempelajari dan mengembangkan home
industri yang ada di masyarakat Anggalan
•
Waktu :
Senin – Kamis
•
Tempat :
Di rumah – rumah masyarakat
•
Keteranagan : Tidak
Terlaksana
•
Pelatihan
Kewirausahaan Home Industri (Kerajinan Piring Terbuat dari Lidi)
•
Metode :
Pelatihan dan Bimbingan
•
Narasumber :
Peserta KUKERTA yang telah berlatih di Cigoong
•
Sasaran :
Masyarakat Desa Anggalan (khususnya para Ibu)
•
Target :
Dengan adanya kerajinan ini, masyarakat bisa menambah kreativitas dan
mengangkat perekonomian serta mampu bersaing dengan Desa – Desa lain di kec.
Cikulur
•
Waktu :
Minggu, 23 Maret 2014, Pukul 09.00 s/d
Selesai.
•
Tempat :
Aula SD Anggalan
•
Keteranagan :
Terlaksana
•
Membuat
Kelompok Usaha Bersama (KUBE)
•
Sasaran :
Masyarakat yang ikut Pelatihan
Kewirausahaan
•
Target :
Masyarakat mampu mandiri dan aktiv dalam
kegiatan – kegiatan perekonomian sehingga mereka dapat mengembangkan
dalam kelompok tersebut.
•
Waktu : 1
x Setiap minggu
•
Tempat :
Rumah – rumah warga
•
Keteranagan : Tidak
Terlaksana
•
Kelompok
Kerja (Pokja) Bidang Pendidikan dan Keagamaan
•
Pengembangan
Sekolah Agama (MDA)
•
Metode :
Ceramah, menghafal, Bernyanyi sambil belajar
•
Sasaran :
Anak-anak murid MDA Abdul Anwar
•
Target :
Mengenal huruf hijaiyyah, menghafal surat-surat pendek, menghafal Do’a
sehari-hari, mengenal makharijul huruf dan tajwid.
•
Waktu :
Setiap hari Senin – Kamis, Pukul 14.00 s/d 16.00 WIB
•
Tempat : MDA
Abdul Anwar
•
Keteranagan : Terlaksana
•
Mengikuti
Kegiatan Rutin (Pengajian)
•
Metode :
Partisipatif
•
Sasaran :
Masyarakat Desa (Ibu-ibu dan Bapak-bapak)
•
Target :
Meningkatkan ukhuwah antara peserta KUKERTA dan masyarakat setempat,
mengembangkan syiar Islam.
•
Waktu :
Sesuai dengan jadwal masyarakat setempat
•
Tempat :
Mesjid dan Mushola
•
Keteranagan :
Terlaksana
•
Pendegelasian
Tenaga Pengajar
•
Sasaran :
Siswa-siswi
•
Target :
Menggali skill peserta KUKERTA, sosialisasi ilmu pengetahuan dan mempelajari
kebutuhan pendidikan, mengenal metode belajar efektif, dan lain-lain.
•
Waktu :
Setiap hari Senin – Kamis
•
Tempat :
•
Keteranagan :
Terlaksana
•
Mengadakan
Bimbingan Belajar (Sore Pintar)
•
Sasaran :
Siswa-siswi usia sekolah dasar yang mengalami kesulitan belajar dan memberi
semangat belajar.
•
Narasumber : Peserta
KUKERTA
•
Target :
Memberi bimbingan dan motivasi agar anak –anak Desa Anggalan semangat dalam
belajar
•
Waktu :
Setiap hari pukul 16.00 WIB
•
Tempat :
Posko KUKERTA 2014 Desa Anggalan
•
Keteranagan :
Terlaksana
•
Mengadakan
Workshop Menggambar (Picturing for Children)
•
Metode :
Workshop dan Perlombaan
•
Sasaran :
Anak – anak dari PAUD, SD dan MTs
•
Narasumber : Dari
KRB (Komunitas Relawan Banten) dibantu Peserta KUKERTA
•
Target :
Mendekatkan anak – anak pada hobi dan
minat, serta memperkenalkan TBM dan menanamkan
konsep pembelajaran sambil bermain
•
Waktu :
Minggu, 09 Maret 2014, Pukul 08.00 s/d 13.00
•
Tempat :
Lapangan SD Anggalan
•
Keteranagan :
Terlaksana
•
Mengadakan
Lomba Baca Puisi dan Menulis Cerpen
•
Metode :
Kompetisi dan motivasi
•
Sasaran :
anak – anak remaja dari MTs, MA Nurul Arfah dan MTs Alfin Mubarok
•
Target :
Membentuk karakter dan keberanian para remaja serta mengembangkan bakat remaja
khiususnya di bidang literasi , mereka pun
di dekatkan dengan program TBM
•
Waktu :
Minggu, 16 Maret 2014, Pukul 09.00 – 13.00 WIB.
•
Tempat :
Posko KUKERTA 2014 Desa Anggalan
•
Membuat
TBM (Taman Baca Masyarakat)
•
Metode :Pendekatan
dan Pengenalan secara continue
•
Sasaran :
Semua elemen masyarakat terutama anak – anak dan pera remaja Desa Anggalan
•
Target :Mengembangkan
minat membaca dan menulis masyarakat Anggalan, mengkader calon penerus yang
akan meneruskan TBM, dan menjadikan
masyarakat aktiv dalam literasi dan seni budaya sehingga mereka dapat lebih
cerdas dalam mengembangkan Desa.
•
Waktu :
Mulai di buka pada hari Minggu, 09 Maret 2014 pada saat workshop menggambar
•
Tempat :
Posko Kukerta Desa Anggalan dan setelah itu di teruskan di Rumah Tokoh Pemuda
(Nursahlan)
•
Keteranagan :
Terlaksana
•
Kelompok
Kerja (Pokja) Bidang Sosial dan
Kesehatan
•
Mengadakan
Diskusi dan Pengenalan Peserta KUKERTA
•
Sasaran :
Kepala Desa, ketua RT dan RW, serta pejabat serta tokoh masyarakat setempat.
•
Target :
memperkenalkan peserta KUKERTA dan bersilaturahmi dengan aparatur Desa , pemaparan permasalahan Desa dan perumusan
program kerja.
•
Waktu :
Sabtu, 01 Maret 2014, Pukul 08.00 s/d selesai
•
Tempat : Di
Balai Desa Anggalan
•
Keteranagan :
Terlaksana
•
Kerja
Bakti Membersihkan dan Merenovasi Sumber Air di Desa
•
Sasaran :
Peserta KUKERTA dan Masyarakat Desa Anggalan
•
Target :
Kerja bakti bersama masyarakat serta menyambung silaturahmi dalam membersihkan
dan merenovasi sumber air
•
Waktu :
Jum’at, 07 Maret 2014, Pukul 09.00 s/d
selesai
•
Tempat :
Sumber Air Kampung Cipurut
•
Keteranagan :
Terlaksana
•
Mengikuti
Kegiatan Posyandu
•
Sasaran :
Bersama Bidan dan Masyarakat Anggalan
•
Target :
Meneliti kesehatan masyarakat Anggalan dan
mencari permasalahan kesehatannya
•
Narasumber : Bidan
Desa Anggalan
•
Waktu : 2 x
satu minggu
•
Tempat :
Keliling Desa Anggalan yang berjumlah 15 Kampung
•
Keteranagan :
Terlaksana
•
Mengadakan
Perlombaan – perlombaan
•
Sasaran :
Seluruh masyarakat anggalan (ibu-ibu, bapak- bapak dan anak – anak)
•
Target :
mendekatkan jalinan silaturahmi antar peserta KUKERTA dan masyarakat anggalan
serta mendorong serta memotivasi mereka agar lebih baik dan berprestasi.
•
Waktu :
Minggu, 30 Maret 2014 Pukul 13.00 s/d selasai.
•
Tempat :
Pendopo Balai Desa Anggalan dan Lapangan SD 1 Anggala
•
Keteranagan :
Terlaksana
•
Mengadakan
Acara Perpisahan Peserta KUKERTA
•
Sasaran :
Seluruh masyarakat anggalan dan Peserta KUKERTA
•
Target :
Mempererat tali silaturahmi antar Peserta dan Masyarakat Desa Anggaln dan
Memberikan kesan yang positif kepada masyarakat Anggalan.
•
Waktu :
Rabu, 02 April 2014 Pukul 13.00 s/d selasai.
•
Tempat :
Pendopo Balai Desa Anggalan
•
Keteranagan :
Terlaksana
B.
Evaluasi dan Refleksi
Empat puluh hari untuk merealisasikan
program kerja merupakan waktu yang relatif singkat. Apalagi sebagian masyarakat
ada pula yang beranggapan kurang positif, menjadikan program kami terhambat
tapi dengan kerja keras dan kekompakan Pesrta KUKERTA akhirnya bisa kita atasi
dengan baik.
Dalam merealisasikan kegiatan apapun, dukungan dan hambatan
itu pasti ada. Untuk lebih jelasnya akan kami kemukakan beberapa
kendala-kendala jalanya program KUKERTA PAR di Desa Anggalan, sebagai berikut :
•
Internal
•
Kurang maksimalnya observasi, karena minimnya waktu serta
minimnya peserta laki-laki.
•
Minimnya Skill analisa kritis mahasiswa dalam memahami
realitas masyarakat.
•
Kurangnya pemahaman methode PAR atau Paticipatory Action
Research
•
Kurangnya sikap respectibelitas masing-masing anggota.
•
Minimnya dana kelompok
•
Masyarakat
•
Beberapa masyarakat belum bisa memahami metode KUKERTA
periode ini (KUKERTA dengan metode PAR).
•
Masyarakat sulit diajak berkumpul dan berdiskusi.
•
Terbentur dengan agenda – agenda yang ada di masyarakat.
Paradigma masyarakat cenderung menginginkan sesuatu yang
instant, sehingga sulit untuk diajak berdiskusi mengoreksi
kekurangan-kekurangan yang mereka rasakan, mereka cenderung menginginkan
sesuatu yang konkrit dan cepat.
•
LP2M
•
Minimnya waktu pelatihan dan kurang efektif. Hal ini
dikarenakan waktu pelaksanaan KUKERTA ini terlalu mendadak sehingga kami tidak
diberi waktu untuk mempersiapkan dan mempelajari lebih dalam teknik PAR ini.
•
Kurangnya bimbingan serta arahan terhadap para Peserta
KUKERTA terlebih dalam mengenalkan metode PAR ini serta lambatnya pembentukan
kelompok KUKERTA PAR ini.
Kegiatan KUKERTA yang merupakan pengabdian kepada masyarakat
di Desa Anggalan oleh mahasiswa IAIN “Sultan Maulana Hasanudin” Banten,
berfungsi sebagai sparing Partner (Pendamping)
dalam mengarahkan masyarakat untuk membangun mental yang mandiri dan bekerja
keras, sehingga di harapkan ada perubahan yang positif di Desa Anggalan.
Dari rumusan program yang sudah di rencanakan oleh peserta
KUKERTA di Desa Anggalan, secara umum apa yang di rumuskan dapat terlaksana
dengan baik. Walapun dalam teknik pelaksanaannya masih terdapat kelemahan dan
kekurangan serta ketidaktepatan waktu yang di programkan, sehingga dari
pengalaman tersebut dapat menjadikan peserta KUKERTA semakin dewasa dalam
berfikir serta mengevaluasi untuk bertindak untuk memecahkan masalah agar terselesaikan.
BAB V. PENUTUP
A.
Kesimpulan
Puji syukur kepada Allah SWT, kegiatan dan program yang
dirumuskan oleh peserta KUKERTA Desa
Anggalan, kec. Cikulur, Kab. Lebak secara garis besar 90% berjalan sesuai dengan rumusan awal. Walaupun secara teknis pelaksnaan di
lapangan ternyata masih ada sedikit kendala. Dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata
(KUKERTA) 2014 yang dilaksanakan di Desa Anggalan selama 40 hari mulai dari tanggal 27 Febuari sampai
dengan 7 April, maka dapat disimpulkan
berapa hal sebagai berikut:
•
Kegiatan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata IAIN SMH BANTEN Tahun
2014 di Desa Anggaln dapat teralisasi dengan baik walupun banyak kendala yang
merintangi. Hal ini terbukti dengan antusiasme warga yang tinggi dalam
melaksanakan setiap kegiatan KUKERTA.
•
Sosialisai kegiatan dengan tokoh masyarakat dan tokoh pemuda
merupakkan kunci keberhasilan merealisasikan kegiatan KUKERTA.
•
Masyarakat yang ditempati adalah objek sasaran kegiatan
KUKERTA sekaligus mitra kerja terlaksannya setiap kegiatan KUKERTA.
B.
Rekomendasi
Setelah 40 hari terjun langsung ke masyarakat, terasa sekali
perjuangan kami untuk mencapai hasil optimal dalam merealisasikan setiap
kegiatan dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM) di Desa Anggalan,
kec.cikulur, kab.Lebak. Berbagai suka dan duka telah kami alami. Dan demi
peningkatan dan perbaikan KUKERTA ditahun depan, maka terlintas dibenak kami untuk memberikan sasaran-sasaran
sebagai berikut:
•
Kepada Peserta Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) IAIN “SMH”
Banten
•
Hendaknya selalu menjaga kekompakan daam hal apapun karena
hal itu bias menunjang keberhasilan setiap kegiatan KUKERTA
•
Hendaknya setiap rmasalahan yang timbul dari internal
kelompok senantiasa dapat diatasi dan pemecahan dengan jalan musyawarah.
•
Hendaknya kehidupan masyarakat Desa Anggalan bisa kita
jadikan pembelajaran yang berharga kedepan.
•
Kepada Masyarakat Desa Anggalan kec. Cikulur kab.Lebak
•
Masyarakat Desa Anggalan hendaknya bisa menjaga persatuan
diantara sesama anggota masyarakat sehingga tercipta suasana yang harmonis.
•
Masyarakat Desa Anggalan agar lebih bersemngat lagi dalam
belajar menuntut ilmu di sekolah maupun di tempat – tempat lain.
•
Masyarakat Desa Anggalan kami harapkan bias memiliki kesan
yang baik terhadap KUKERTA dari manapun.
•
Kepala IAIN “SMH” Banten atau LP2M :
•
Mempersiapkan konsep KUKERTA yang lebih matang agar
Mahasiswa lebih siap terjun di masyarakat.
•
Memperhatikan aspirasi Mahasiswa yang akan melaksanakan
KUKERTA, dan kebijakan yang diambil bukan top
down tetapi juga bottom up.
•
Diharapkan terdapat subsidi dan yang memadai untuk Mahasiswa
pelaksana KUKERTA sehingga Mahasiswa tidak mengalami kesulitan finansial saat
melaksanakan kegiatan KUKERTA.